u3-11-5
Jempol yang Santun, Hati yang Rukun: Rahasia Jadi Jagoan di Dunia Maya

Dahulu, orang tua sering berpesan, “Mulutmu adalah harimaumu.” Namun sekarang, pepatah itu mungkin sedikit berubah menjadi “Jempolmu adalah harimaumu.” Sebagai siswa kelas 5 yang hampir setiap hari memegang ponsel untuk berbagi informasi melalui WhatsApp, mencari tugas di internet, atau bermain game, kita menyadari satu hal penting. Ponsel kita bisa menjadi tempat yang menyenangkan, tetapi juga bisa menjadi tempat yang menyedihkan jika kita tidak berhati-hati.

Internet adalah jendela dunia. Melalui internet, kita bisa melihat keajaiban ciptaan Allah Swt. dari seluruh penjuru bumi. Namun, ada sebuah tantangan besar yang sering menghampiri tanpa kita sadari, yaitu perundungan dunia maya atau bahasa kerennya disebut cyberbullying. Kami ingin mengajak teman-teman semua untuk merenung: Apakah kita sudah menjadi “Pahlawan Digital” atau justru tanpa sadar menjadi “Penjahat Digital”?

 

Hanya Bercanda atau Sengaja Ciptakan Duka?

Sering kali kita tidak sadar bahwa apa yang kita anggap “lucu” ternyata bisa melukai hati teman, bahkan sahabat kita. Mari kita berusaha jujur pada diri sendiri, pernahkah kita melihat atau bahkan melakukan hal-hal berikut ini di grup kelas atau media sosial?

  1. Stiker dari foto teman

Diam-diam kita mengedit foto teman dengan ekspresi wajah jelek, lalu menjadikannya stiker WhatsApp untuk ditertawakan bersama di grup.

  1. Kick atau mengucilkan teman dalam grup

Sengaja mengeluarkan seorang teman dari grup karena kita sedang sebal padanya, tujuannya agar dia merasa sedih atau terasing dari teman-teman satu grup.

  1. Memberi komentar yang pedas

Menuliskan kata-kata yang menjatuhkan seperti “Ah, tugasmu jelek sekali,“ atau “Videomu membosankan,” saat teman berani menunjukkan hasil karyanya.

  1. Menyebarkan cerita rahasia

Memberitahu kekurangan atau masalah pribadi teman kepada teman yang lain tanpa izin.

 

Teman-teman, mungkin saat melakukan hal di atas, kita hanya ingin bercanda. Namun, kriteria bercanda yang benar dalam Islam adalah ketika semua orang yang terlibat merasa bahagia. Jika ada satu orang saja yang merasa sedih, malu, atau bahkan sampai menangis, itu bukan lagi candaan. Itu adalah perundungan. Bayangkan, jika kita berada di posisi teman yang menjadi bahan tertawaan tersebut. Tentu rasanya sangat tidak nyaman, bukan?

 

Apa Kata Allah dan Rasulullah Soal Jari Kita?

Sebagai siswa sekolah Islam, kita punya panduan paling hebat di dunia, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Allah Swt memberikan nasihat yang sangat indah untuk kita di dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)…” (QS. Al-Hujurat: 11) 1

 

“Celakalah setiap pengumpat lagi pencela”. (QS Al-Humazah: 1) 2

 

 

Rasulullah saw juga pernah menjelaskan ciri-ciri muslim yang hebat:

“Seorang muslim adalah orang yang orang lain merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) 3

 

Artinya, tangan kita saat memegang ponsel pun harus memberikan rasa aman bagi orang lain. Jika jari-jari kita digunakan untuk mengetik doa, memberikan semangat kepada teman yang kesulitan, atau berbagi ilmu yang bermanfaat, itulah tanda bahwa kita adalah siswa yang memiliki akhlak juara. Menjaga kesopanan di internet bukan hanya soal aturan sekolah, tapi juga soal tabungan pahala kita di akhirat.

 

Hati-Hati, Tulisan Kita Tidak Bisa Dihapus Selamanya!

Satu hal yang wajib kita ketahui adalah, bahwa setiap tulisan, foto, dan komentar yang kita unggah akan menjadi jejak digital 4.  Meskipun kita sudah menekan tombol “hapus pesan”, jejaknya bisa saja sudah tersimpan melalui tangkapan layar (screenshot) orang lain.

Mengapa ini berbahaya? Karena jejak digital ini akan terus ada sampai kita dewasa. Jika suatu saat nanti kita ingin masuk ke sekolah impian atau melamar pekerjaan, orang lain bisa melihat bagaimana perilaku kita di internet saat masih sekolah. Kita tentu tidak ingin cita-cita besar kita terhambat, hanya karena jejak jari yang pernah tidak sopan di masa lalu.

 

Apa yang Dirasakan Teman yang Kita Ejek?

Teman-teman, luka di hati karena kata-kata sering kali lebih lama sembuhnya daripada luka di lutut karena jatuh dari sepeda. Korban perundungan dunia maya sering mengalami:

  1. Kehilangan kepercayaan diri

Mereka merasa tidak berharga dan malu untuk bertemu teman-teman.

  1. Takut sekolah

Mereka merasa sekolah bukan lagi tempat yang aman, karena di mana-mana ada yang mengejeknya.

  1. Gangguan belajar

Pikiran mereka terlalu penuh dengan kesedihan, sehingga sulit untuk berkonsentrasi saat guru menjelaskan pelajaran.

Selain tiga hal di atas, perundungan juga bisa membuat suasana kelas kita menjadi tidak nyaman. Teman yang biasanya ceria tiba-tiba menjadi pendiam, dan kita pun kehilangan kesempatan untuk belajar bersama dengan tenang. Ingatlah teman-teman, sekolah adalah rumah kedua kita. jika kita saling menyakiti di internet, rasa hangat di dalam kelas kita pun akan perlahan-lahan menghilang.

 

Cara Keren Jadi Pahlawan di Internet

Daripada kita sibuk mencari kesalahan atau kekurangan teman, lebih baik kita menjadi Pahlawan Digital di sekolah kita. Bagaimana caranya? Yuk, kita intip cara untuk menjadi Pahlawan Digital dengan “4S”.

  1. Saring sebelum sebar

Sebelum menekan tombol kirim, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini benar? Apakah ini baik? Apakah ini bermanfaat?”

Jika jawabannya tidak, segera hapus tulisan tersebut. Ingat, sekali kita menekan tombol kirim, kita tidak bisa menariknya kembali dari ingatan orang lain.

 

 

  1. Sopan dalam menegur

Jika melihat teman sedang diolok-olok di grup, jangan ikut tertawa dan jangan mengirim emoji “lucu”. Beranikan diri untuk mengirim pesan: “Teman-teman, ayo kita bicara atau mengetik yang baik saja, ya.” Mengingatkan teman adalah tanda kita sayang kepada mereka, agar mereka tidak terjerumus dalam kesalahan dan dosa.

  1. Simpan bukti

Jika kita mengalami perundungan, jangan dibalas dengan kemarahan. Simpan bukti percakapannya melalui tangkapan layar (screenshot) untuk kita diskusikan dengan orang yang lebih dewasa.

  1. Segera lapor

Meminta bantuan kepada Bapak/ Ibu guru atau orangtua bukanlah tanda bahwa kita lemah atau “tukang mengadu”. Justru itu adalah tindakan paling cerdas agar masalah tidak semakin besar. 5

 

Ayo Kita Janji Bersama

Teman-teman semuanya, internet adalah dunia yang sangat luas tanpa batas. Mari kita hiasi dunia tersebut dengan karya-karya hebat, bukan dengan cacian yang menyakitkan. Bayangkan, jika kita semua sepakat untuk selalu menjaga jempol, maka grup WhatsApp kelas kita akan menjadi tempat yang paling nyaman untuk berbagi ilmu dan canda tawa yang tulus.

Ingatlah, orang yang hebat bukanlah orang yang bisa menjatuhkan teman lewat kata-kata pedasnya. Orang yang hebat adalah mereka yang mampu mengendalikan jarinya untuk menyebarkan kedamaian. Mari kita mulai dari sekarang, dari diri sendiri, dan dari hal yang paling kecil.

Selamat menjadi Pahlawan Digital yang membanggakan orang tua, guru, dan sekolah kita tercinta, SDIT Darussalam 01!

 

 

 

Catatan Kaki

  • Al-Qur’an Surah Al-Hujurat Ayat 11: Ayat ini merupakan landasan etika bersosialisasi dalam Islam, melarang segala bentuk penghinaan dan pemberian julukan buruk.
  • Al-Qur’an Surah Al-Humazah Ayat 1: Ayat ini menegaskan ancaman kebinasaan bagi orang yang suka mengumpat (humazah) dan mencela (lumazah).
  • Hadits Riwayat Bukhari (No. 10): Menjelaskan bahwa kualitas keislaman seseorang diukur dari kemampuannya memberikan rasa aman bagi orang di sekitarnya.
  • Literasi Digital: Pengetahuan untuk menggunakan media digital secara bijak, termasuk pemahaman tentang Digital Footprint (rekam jejak elektronik pengguna).
  • Teori Mediasi Konflik: Penelitian menunjukkan bahwa dukungan dari figur otoritas (guru/orang tua) sangat krusial untuk menghentikan siklus perundungan pada anak usia Sekolah Dasar.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait