u3-1-4
Tak Disentuh Namun Menyakitkan: Stop Cyberbullying

Di era digital saat ini, penggunaan alat elektronik sudah tidak asing lagi. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang yang sudah berumur juga menggunakan perangkat digital seperti gawai (HP – telepon genggam), tablet, komputer, dan lain-lain. Saat ini, anak usia balita juga sudah diperkenalkan dengan gawai (HP – telepon genggam). Dengan maraknya penggunaan gawai (HP – telepon genggam), semakin banyak pula orang-orang yang dapat mengakses berbagai aplikasi yang ada di internet, seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube, dan lain sebagainya. Aplikasi tersebut juga memberikan ruang untuk saling berbagi informasi dari siapa saja dari berbagai penjuru dunia. Tak jarang, orang-orang bisa mengirim pesan atau komentar mengenai konten yang dilihat oleh pengguna internet. Pesan yang dikirim bisa berupa pesan yang baik dan tidak baik. Pesan yang tidak baik ini bisa menjadi salah satu bentuk cyberbullying.

 

Apa Arti Cyberbullying?

Cyberbullying adalah salah satu perundungan yang sering terjadi namun sayangnya lebih sering tidak disadari oleh pelakunya. Biasanya hal ini tidak terjadi secara langsung, namun melalui perangkat digital yang sering kita pakai. Cyberbullying merupakan tindakan yang dilakukan oleh seseorang secara sengaja dengan cara mengirim, mengunggah, atau membagikan konten negatif, berbahaya, palsu, atau kejam mengenai orang lain. Hal ini dapat mencakup penyebaran informasi pribadi seseorang yang dapat menyebabkan rasa malu atau penghinaan bagi korban. Bentuknya bisa berupa komentar kasar, penyebaran foto tanpa izin, fitnah, ejekan, hingga pengucilan di grup percakapan. Banyak pelaku merasa aman karena bersembunyi di balik layar dan identitas maya, tanpa menyadari dampak besar yang ditimbulkan. Beberapa bentuk cyberbullying juga dapat dikategorikan sebagai tindakan melanggar hukum atau kriminal.

 

Apa Faktor Penyebab Terjadinya Cyberbullying?

Menurut artikel Halodoc.com, ada beberapa faktor penyebab seseorang melakukan tindakan cyberbullying, yaitu: [1] anonimitas (identitas yang tersembunyi) dan ketidakpedulian terhadap korban; [2] ingin memuaskan diri; [3] adanya masalah pribadi atau emosi negatif; [4] pengaruh lingkungan; dan [5] ketidaktahuan tentang dampak yang akan terjadi.

 

Apa Dampak yang Dirasakan oleh Korban Cyberbullying?

Bagi korban, dampak yang dirasakan sangatlah beragam. Perasaan ditertawakan atau dilecehkan oleh orang lain dapat membuat seseorang menjadi malu, kurang percaya diri, depresi, tidak berdaya, dan tidak ingin membicarakan atau mengatasi masalah tersebut. Beberapa kasus menunjukkan bahwa tekanan mental akibat perundungan daring dapat berujung pada tindakan menyakiti diri sendiri. Luka akibat kata-kata sering kali lebih lama sembuh dibanding luka fisik, karena tersimpan dalam ingatan dan perasaan.

Dalam kasus yang lebih ekstrem, hal ini juga dapat menyebabkan seseorang melakukan percobaan bunuh diri.

Perkembangan teknologi telah membawa banyak kemudahan dalam kehidupan manusia. Melalui gawai di tangan, seseorang dapat berkomunikasi, belajar, bahkan membangun usaha. Namun di balik kemajuan itu, muncul ancaman yang tak kasat mata: cyberbullying. Ia tidak menyentuh fisik, tidak meninggalkan luka lebam, tetapi mampu melukai hati, merusak mental, bahkan menghancurkan masa depan seseorang. Inilah bentuk kekerasan yang tak terlihat, namun terasa sangat menyakitkan.

Cyberbullying Dalam Perspektif Islam

Dalam perspektif agama Islam, perilaku cyberbullying jelas bertentangan dengan ajaran akhlak mulia. Islam sangat menjaga kehormatan dan martabat setiap manusia. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka…”

Ayat ini menegaskan larangan menghina, merendahkan, atau memperolok orang lain. Ejekan yang kini mudah dilontarkan melalui komentar media sosial termasuk dalam perbuatan yang dilarang.

Selain itu, dalam QS. Al-Hujurat ayat 12, Allah Swt. juga melarang prasangka buruk, mencari-cari kesalahan, dan menggunjing. Banyak praktik cyberbullying bermula dari prasangka dan berujung pada penyebaran aib. Padahal Rasulullah saw bersabda:

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi dasar bahwa menyakiti orang lain, baik secara langsung maupun melalui media digital, termasuk perbuatan zalim.

Secara hukum positif di Indonesia, tindakan cyberbullying juga dapat dijerat melalui Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), terutama pasal yang mengatur tentang pencemaran nama baik, ujaran kebencian, dan ancaman melalui media elektronik. Hal ini menunjukkan bahwa perundungan daring bukan hanya persoalan etika, tetapi juga persoalan hukum.

Mencegah cyberbullying membutuhkan kesadaran bersama. Orang tua perlu mendampingi anak dalam penggunaan gawai. Sekolah harus menanamkan pendidikan karakter dan literasi digital. Para siswa juga harus bijak dalam bermedia sosial: berpikir sebelum mengetik, menyaring sebelum membagikan, dan memastikan bahwa setiap kata yang ditulis membawa kebaikan.

Sebagai generasi muslim yang hidup di era digital, kita dituntut untuk menghadirkan akhlak mulia di dunia nyata maupun dunia maya. Media sosial seharusnya menjadi ladang pahala, bukan sarana menyebar dosa. Kata-kata yang baik dapat menjadi sedekah, sementara kata-kata yang menyakitkan bisa menjadi beban pertanggungjawaban di akhirat.

Cyberbullying memang tak menyentuh tubuh, tetapi ia bisa menghancurkan jiwa. Karena itu, mari jadikan jari-jari kita penebar kebaikan, bukan penyebab luka perasaan. Sebab setiap tulisan akan dimintai pertanggungjawaban, dan setiap hati yang terluka adalah amanah yang harus kita jaga.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait